Demokrasi global berada di titik balik sejarah.
Di satu sisi ia terus dipuja sebagai sistem politik pal-ing manusiawi dan paling rasional yang pernah dic-iptakan. Namun di sisi lain, ia sedang terperangkap dalam badai besar: disinformasi yang merajalela, polarisasi yang memecah masyarakat, otoritarian-isme baru yang licik, serta teknologi yang berubah menjadi alat pengawasan dan manipulasi massal. Pertanyaan yang dulu hanya dibisikkan kini menjadi percakapan terbuka: apakah demokrasi masih punya masa depan?
Buku Masa Depan Demokrasi Global mengajak pembaca menelusuri perjalanan intelektual yang kritis dan reflektif untuk memahami bagaimana demokrasi bekerja—dan mengapa ia rapuh. Melalui analisis tajam tentang media sosial sebagai ruang publik baru, kapitalisme pengawasan, gerakan sipil, serta munculnya model partisipasi politik yang ino-vatif, buku ini menyingkap realitas bahwa demokrasi bukanlah sistem yang selesai, melainkan proses yang terus diperjuangkan. Demokrasi harus be-radaptasi dengan dunia yang berubah cepat, atau ia akan terseret dalam gelombang otoritarianisme digi-tal yang mengancam kebebasan manusia.
Lebih dari sekadar menggambarkan krisis, buku ini menawarkan harapan: tentang rekonstruksi insti-tusi, kolaborasi warga, dan solidaritas global sebagai jalan baru yang mampu menyelamatkan masa depan demokrasi. Pembaca diajak untuk melihat bahwa kekuatan terbesar demokrasi tidak berada di tangan elite, melainkan di tangan masyarakat yang berani terlibat, berpikir kritis, dan memperjuangkan kebenaran di tengah banjir informasi palsu.
Jika Anda percaya bahwa dunia yang adil tidak akan terjadi tanpa perjuangan kolektif, buku ini adalah undangan untuk bergabung dalam upaya me-nyelamatkan masa depan demokrasi—sebelum ter-lambat.
Bumi Pradipta Media — Membaca untuk Mem-bebaskan.
Jumlah hlm: 84
Ukuran: 13×19