Desentralisasi diharapkan membawa pemerintahan lebih dekat pada rakyat, membuka ruang partisipasi lokal, dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. Namun, realitasnya tidak selalu seindah harapan. Buku ini mengupas sisi lain dari desentralisasi di Indonesia—ketika ketimpangan antarwilayah justru melebar, kapasitas daerah timpang, dan akses terhadap sumber daya menjadi tidak merata.
Lewat narasi berbasis kajian ilmiah dan realita lapangan, buku ini membedah berbagai aspek ketimpangan yang muncul pasca otonomi daerah: dari alokasi fiskal, daya saing daerah, kualitas SDM dan infrastruktur, hingga problem korupsi lokal dan kepemimpinan populis. Ditulis dengan gaya akademik yang lugas, buku ini menjadi bacaan penting bagi maha-siswa, peneliti, pembuat kebijakan, dan siapa pun yang peduli pada masa depan tata kelola wilayah yang lebih adil.