Petani adalah wajah paling jujur dari bangsa ini—mereka yang menanam bukan hanya padi, tetapi juga kehidupan. Namun, di tengah gempuran kapitalisme agraria, tanah mereka kian sempit, harga tak berpihak, dan suara mereka jarang didengar. Buku Gerakan Petani dan Akses terhadap Tanah hadir sebagai refleksi panjang tentang perjuangan petani Indonesia mempertahankan haknya: dari konflik agraria, eksploitasi korporasi, hingga inisiatif koperasi dan inovasi digital di desa-desa yang berjuang untuk tetap hidup.
Dihimpun dengan gaya naratif-analitis yang tajam, buku ini memotret wajah agraria kita dengan jujur—tentang bagaimana tanah bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi juga ruang eksistensi sosial dan spiritual. Ia mengajak pembaca melihat petani bukan se-bagai korban, melainkan sebagai pelaku sejarah yang terus menulis perlawanan dengan cangkul, keringat, dan doa.
Lebih dari sekadar kajian agraria, buku ini adalah seruan moral: bahwa bangsa yang melupakan petaninya sedang menggali lubang bagi masa depannya sendiri. Di tangan mereka, kehidupan tumbuh. Di kaki mereka, bumi berpijak. Dan di setiap musim tanam yang baru, selalu ada harapan—bahwa kedaulatan pangan dan keadilan sosial bukanlah utopia, melainkan cita-cita yang bisa ditanam bersama.
Jumlah halaman: 104
Ukuran: 13×19 cm