Etika adalah pagar tak terlihat yang menjaga martabat kekuasaan. Namun ketika pagar itu runtuh, yang tersisa hanyalah gedung megah tanpa jiwa. Buku Fenomena “Dewan Kehormatan” dan Etika Parlemen hadir untuk menelusuri ruang paling sunyi dalam politik Indonesia — ruang di mana moral dan kekuasaan saling menguji.
Melalui analisis mendalam dan bahasa yang jernih, buku ini menyoroti peran Dewan Kehormatan dalam menjaga marwah lembaga legislatif, menelaah berbagai kasus pelanggaran etika, hingga membandingkannya dengan praktik di parlemen negara-negara demokrasi lain. Lebih dari sekadar telaah hukum, karya ini mengajak pembaca memahami bahwa kehormatan politik tidak bisa dibangun dengan aturan saja, melainkan dengan kesadaran moral dan keberanian menegakkan integritas di tengah badai kepentingan.
Buku ini bukan hanya untuk politisi atau akademisi, tetapi untuk siapa pun yang percaya bahwa demokrasi sejati lahir dari manusia-manusia yang tahu batas antara hak dan kehormatan. Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap lembaga politik, Fenomena “Dewan Kehormatan” dan Etika Parlemen menjadi pengingat bahwa etika bukan aksesori kekuasaan—ia adalah jantungnya.